Labels

Sabtu, 31 Maret 2012

PENELITIAN ILMIAH KACANG HIJAU


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH

Kacang hijau merupakan salah satu bahan makanan terpopuler di indonesia. Dalam bahasa latin kacang hijau di sebut phaseolus radiatus linn dapat di temui hampir di seluruh wilayah Indonesia, tumbuh di daerah yang beriklim tropis. Banyak sekali manfaat kacang hijau karena tingginya kandungan protein nabati dari kacang hijau setelah kacang kedelai dan kacang tanah. Kacang hijau dapat di sajikan dengan cara di rebus, di makan langsung atau di jadikan bubur. Kacang hijau yang telah di rebus hingga matang juga bisa di tumbuk halus dan dijadikan isi onde - onde, bakpau atau gandasturi. Kacang hijau juga dapat di jadikan tepung yang biasa di sebut tepung hunkwe, tepung ini biasa di gunakan dalam pembuatan berbagai jenis kue, es krim tradisional, dan soun.

            Kacang hijau sangat mudah berkecambah yang biasa kita kenal sebagai tauge. Kecambah kacang hijau banyak sekali mengandung enzim aktif, salah satunya adalah enzim amilase yang membantu metabolisme karbohidrat. Kelebihan dari kacang hijau, walaupun direbus lama ( sampai hancur ) khasiat kacang hijau tidak berkurang dan tidak terpengaruh panas. Berbeda dengan bahan makanan yang lain seperti sayur, buah, dan ramuan tradisional lainnya yang apabila direbus terlalu lama akan menurunkan khasiat obatnya.

Kandungan gizi yang terdapat dalam 110 gr kacang hijau adalah 345 kalori, 22,2 gr protein, 1,2 gr lemak, dan sisanya berupa vitamin A, vitamin B1, fosfor, zat besi, mangan.
Selain enak dan banyak mengandung banyak vitamin dan mineral manfaat kacang hijau juga dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti beri -beri, radang ginjal, tekanan darah tinggi, keracunan alkohol dan pestisida, mengurangi gatal karena biang keringat, muntaber, menguatkan fungsi limpa dan lambung, impotensi, TBC, jerawat, mengatasi flek hitam di wajah, dan menurunkan demam.

Dengan kandungan gizi dan manfaat dari kacang hijau untuk kesehatan yang begitu banyaknya, sehingga tak heran jika banyak warga Indonesia yang menanam dan mengkonsumsi tanaman kacang hijau. Biji dan kecambah dari tanaman ini sangat mudah kita jumpai di pasar-pasar baik tradisional hingga pasar modern. Tentu ada diantara kita yang berfikiran bahwa mengapa kita tidak menanam sendiri kacang hijau daripada harus susah-susah pergi ke pasar hanya untuk membeli sedikit kacang hijau untuk dimakan.

Untuk mengatasi hal tersebut penulis menerbitkan proposal  yang berjudul “Pengaruh pemberian sekam pada pertumbuhan benih kacang hijau” demi memenuhi tuntutan sebagian orang yang ingin menanam sendiri kacang hijau. Segala sesuatu tentang penanaman kacang hijau dengan membandingkan pemberian sekam dan tanah biasa akan dikupas lebih detail dalam proposal ini. Penulis hanya berharap semoga proposal ini dapat berguna kedepannya. Aamiin.


B.   IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan Latar Belakang Masalah dapat di identifikasikan sebagai berikut :
1.      Mengenal lebih dekat berbagai bahan yang digunakan untuk menanam benih kacang hijau,
2.      Bagaimana pengaruh dari bahan yang digunakan untuk menanam benih kacang hijau,
3.      Apa saja faktor yang mendukung pertumbuhan benih kacang hijau,
4.      Dan yang terpenting adalah bagaimana kita dapat merawat tumbuhan kacang hijau agar dapat mendatangkan keuntungan bagi kita.


C.   PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan Latar Belakang Masalah pembataskan masalah penelitian sebagai berikut :
Penelitian dibatasi sebagai berikut:
1.      Tumbuhan kacang hijau yang digunakan adalah jenis kacang hijau parkit dengan tempat pemiliknya adalah Bp. Azis Eko
2.      Sekam yang digunakan adalah sekam bakar dengan tempat  pemiliknya Bp. Azis Eko di daerah Surakarta.

D.   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan Latar Belakang Masalah rumusan masalah penelitian sebagai berikut :
Apakah ada pengaruh pemberian sekam pada pertumbuhan benih kacang hijau di perkebunan milik Bp. Azis Eko  di daerah Surakarta ?

E.    TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan Latar Belakang Masalah tujuan penelitian sebagai berikut :
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian sekam terhadap pertumbuhan benih kacang hijau milik Bapak Azis Eko.


F.    MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan Latar Belakang Masalah manfaat penelitian sebagai berikut :
1.      Untuk menanggulangi pertumbuhan tanaman Kacang Hijau milik Bapak Azis.
2.      Untuk memperbaiki kualitas benih kacang hijau, ini juga dapat memberi keuntungan bagi Bapak Azis
3.      Untuk membuat tanaman Bapak Azis lebih subur.








BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR,                             DAN HIPOTESA

A.      KAJIAN TEORI

1.      Pengertian sekam
Sekam adalah bagian dari bulir padi-padian (serealia) berupa lembaran yang kering, bersisik, dan tidak dapat dimakan, yang melindungi bagian dalam (endospermium dan embrio). Sekam dapat dijumpai pada hampir semua anggota rumput-rumputan (Poaceae), meskipun pada beberapa jenis budidaya ditemukan pula variasi bulir tanpa sekam (misalnya jagung dan gandum). Dalam pertanian, sekam dapat dipakai sebagai campuran pakan, alas kandang, dicampur di tanah sebagai pupuk, dibakar, atau arangnya dijadikan media tanam.
Secara anatomi, sekam terbentuk dari bagian perhiasan bunga padi-padian (spikelet) yang disebut gluma, palea, dan lemma. Pada tongkol jagung konsumsi, ketiga bagian ini tereduksi sehingga tampak seperti sisik pada permukaan tongkol. Pada padi, gluma mirip seperti dua duri kecil di bagian pangkal. Palea adalah bagian penutup yang kecil, sedangkan lemma adalah bagian penutup yang besar dan pada varietas tertentu memiliki "bulu" (awn). Pada bunga gandum, ketiga bagian ini berkembang baik.
Sekam diperlukan untuk keperluan penanaman ulang tanaman ini. Bulir tanpa sekam (disebut beras untuk padi) tidak dapat digunakan sebagai bahan tanam, kecuali pada kultivar tanpa sekam.
Bulir dari berbagai tanaman pangan yang didomestikasi memiliki sekam yang mudah lepas. Tipe-tipe primitif padi, gandum, serta beberapa biji-bijian lainnya bijinya cenderung tertutup rapat oleh sekam.  Kultivar-kultivar modern gandum dan padi memiliki sekam yang mudah lepas atau mudah dipecah ketika digiling. Proses pemisahan sekam dari isinya dulu dilakukan dengan penumbukan gabah memakai alat tumbuk (biasanya berupa alu dengan pemukulnya). Pada masa kini orang memakai mesin giling dan prosesnya disebut penggilingan. Penggilingan atau penumbukan akan menghasilkan beras yang masih tercampur dengan sisa-sisa sekam atau pengotor lainnya. Tahap pembersihan berikutnya adalah pengayakan; secara tradisional dilakukan dengan melemparkannya ke udara sehingga bagian yang lebih berat terpisah dari bagian yang ringan. Sekam tidak sama dengan bekatul (atau bran). Bekatul termasuk bagian dari endospermium dan terbentuk dari lapisan aleuron.
Sekam tidak dapat dimakan. Ia digunakan terutama sebagai alas kandang karena sangat higroskopis sehingga menyerap cairan atau kelembaban. Beberapa hewan dapat menoleransi sekam sehingga campuran pakannya mengandung sekam. Selain itu, sekam dapat dibakar di ladang untuk dicampurkan ke tanah. Suatu teknik hidroponik murah telah dikembangkan menggunakan arang sekam sebagai media untuk menahan tanaman.

2.   Pengertian Kacang Hijau
Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan(Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.
Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasanAsia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge. Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatankue-kue dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun.

3.  Budi daya kacang hijau
a.       Penggunaan Varietas Unggul
Menurut Balitkabi (2005), semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok di tanam di lahan sawah. Namun, untuk daerah endemik penyakit embun tepung dan bercak daun  (Cercospora) dianjurkan menanam varietas Sriti, Kenari, Atman: Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah  ISSN 1412-583891Perkutut, Murai, dan Kutilang. Pada Tabel 3 disajikan keunggulan beberapa varietas unggul yangtelah dilepas. Diharapkan petani mempunyai banyak pilihan dalam menggunakan varietas kacang hijau yang mereka sukai.  Tabel 3. Keunggulan beberapa varietas unggul kacang hijau. Varietas Keunggulan Sriti Tipe determinet; produktivitas rata-rata 1,58 t/ha; warna biji hijau kusam; ukuran biji besar (6,0-6,5 g/100 biji); toleran penyakit embun tepung dan bercak daun; umur panen 60-65 hari. Murai Tipe determinet; produktivitas rata-rata 1,5 t/ha (rentang hasil 0,9-2,5 t/ha); warna biji hijau kusam; ukuran biji besar (6 g/100 biji); tahan penyakit bercak daun; umur panen 63 hari. Perkutut Tipe determinet; produktivitas rata-rata 1,5 t/ha (rentang hasil 0,7-2,2 t/ha); warna biji hijau mengkilat; ukuran biji sedang (5 g/100 biji); tahan penyakit embun tepung dan agak tahan penyakit bercak daun; umur panen 60 hari. Kutilang Tipe determinet; produktivitas rata-rata mencapai 2,0 t/ha; biji berwarna hijau mengkilat; ukuran biji besar (6 g/100 biji); tahan penyakit embung tepung; umur panen 60-67 hari. Kenari Tipe tegak; determinet; produktivitas rata-rata 1,64 t/ha (rentang hasil 0,8-2,4 t/ha); warna biji hijau mengkilat; ukuran biji besar (6,7 g/100 biji); agak tahan penyakit bercak daun dan toleran penyakit karat; umur panen 60-65 hari. Sampeong Hasil pemurnian varietas lokal Samsik dari Nusa Tenggara; ukuran biji sangat kecil (2,5-3,0 g/100 biji) sehingga sesuai untuk dibuat kecambah (tauge); produktivitas rata-rata 1,0 t/ha; umur panen 70-75 hari. Camar Berumur pendek (panen 60 hari); Produktivitas 1-2 t/ha; tahan penyakit busuk daun dan bercak coklat; polong masak cukup seragam sehingga panen dapat  serempak; polong berada di atas daun canopi sehingga memudahkan penen secara maksimal Sumber: BPTP NTB (2002); Balitkabi (2005).

b.       Penyiapan lahan
Kacang hijau dapat tumbuh pada semua jenis tanah sepanjang kelembaban dan tersedianya unsur hara yang cukup. Untuk itu lahan yang akan dipergunakan harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Pada lahan sawah setelah panen padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (tanpa olah tanah=TOT). Menurut Sunantara (2000) dan Balitkabi (2005), jerami cukup dipotong pendek atau rata dengan tanah. Sementara itu, pada lahan sawah yang sudah agak lama tidak ditanami perlu dilakukan pengolahan tanah secara sempurna. Untuk menghindari air tergenang pada musim hujan perlu dibuat saluran drainase dengan lebar dan kedalaman 20-30 cm dan jarak antar saluran maksimum 4 m (Balitkabi, 2004).

c.        Penanaman
 Pada daerah endemis hama lalat bibit dan untuk menghindari serangan semut maka terlebih dahulu benih dicampur dengan Marshal 25 ST (Carbosulfan) dengan takaran 10-15 g/kg benih atau Fipronil dengan takaran 5 cc/kg benih. Penanaman dilakukan dengan sistem tugal sebanyak 2-3 biji/lubang dengan kedalaman 3-5 cm, kemudian ditutup dengan abu dapur/jerami atau tanah halusl atau pupuk kandang. Kebutuhan benih berkisar 15-20 kg/ha. Jarak tanam bervariasi, yaitu 40x10 cm (populasi 300.000-400.000 tanaman/ha) pada musim hujan atau 40x15 cm (populasi 400.000-500.000 tanaman/ha) pada musim kemarau (Balitkabi, 2005; Hilman,  et al., 2004). Balitkabi (2004) juga menyarankan jarak tanam mengikuti jarak tunggul padi. Pada saat tanam, kelembaban Jurnal Ilmiah Tambua, Vol. VI, No.1, Januari-April 2007: 89-95  hlm.  ISSN 1412-5838 92. tanah tidak boleh terlalu tinggi karena dapat menyebabkan biji busuk.  Penyulaman dapat dilakukan umur 7 hari (Tim Prima Tani, 2006).  Menurut Hilman,  et al. (2004), pada umumnya petani melakukan penanaman benih kacang hijau sesudah padi dengan cara sebar benih sebelum atau sesudah padi dipanen. Sebar benih kacang hijau setelah padi dipanen dilakukan dengan atau tanpa pembabatan jerami, dan benih yang diperlukan berkisar 50-75 kg/ha.

d.       Pemupukan
Dalam bertanam kacang hijau, petani jarang melakukan pemupukan. Cara ini juga disarankan terutama pada lahan-lahan yang subur. Sedangkan pada tanah kurang subur diberikan pupuk sebanyak 45 kg Urea + 45-90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha (Hilman, et al., 2004; Balitkabi, 2005). Sunantara (2000) menyarankan pemberian pupuk sebanyak 50 kg Urea + 60 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Pupuk diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15-20 t/ha atau abu dapur/abu hasil pembakaran jerami sebanyak 5 t/ha sangat baik diaplikasikan untuk menutup lubang tanam. Menurut Balitkabi (2004), cara ini dapat meningkatkan hasil kacang hijau mencapai 1,5 t/ha.


e.       Penggunaan Mulsa Jerami (Sekam)
Penggunaan mulsa jerami yang ditebar pada hamparan pertanaman kacang hijau secara merata dapat mengurangi serangan hama lalat bibit, menekan pertumbuhan gulma, dan memperlambat proses penguapan air tanah. Balitkabi (2005) dan Tim Prima Tani (2006) menganjurkan penggunaan jerami dengan takaran sebanyak 5 t/ha.

f.       Penyiangan
 Penyiangan dilakukan tergantung dengan pertumbuhan gulma. Sunantara (2000) menganjurkan umur 10-15 hari setelah tanam (hst) dan 25-30 hst, dengan cara dikored atau menggunakan cangkul. Pada daerah yang langka tenaga kerja dapat menggunakan herbisida pra tumbuh non selektif seperti: Lasso, Paraquat, Dowpon, dan Goal dengan takaran 1-2 l/ha yang diaplikasikan 3-4 hari sebelum tanam.

g.      Pengairan
Kacang hijau termasuk tanaman yang toleran terhadap kekurangan air, yang penting tanah cukup kelembabannya. Namun, bila tanah pertanaman kacang hijau kekeringan sebaiknya segera diairi terutama pada periode kritis, yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur 25 hst), dan saat pengisian polong (umur 45-50 hst) (Sunantara, 2000). Untuk kacang hijau yang ditanam di tanah bertekstur ringan (berpasir), umumnya pengairan dilakukan dua kali yaitu umur 21 dan 38 hst, sedangkan pertanaman di tanah bertekstur berat (lempung), biasanya diperlukan pengairan hanya satu kali (Balitkabi, 2005).

h.      Pengendalian Hama
Serangan hama merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya hasil di tingkat petani. Dilaporkan terdapat sebanyak 30 jenis serangga yang telah diketahui merupakan hama kacang hijau dan 20 jenis digolongkan sebagai hama penting yang dapat menurunkan kualitas tanaman kacang hijau. Hama ini menyerang seluruh bagian tanaman kacang hijau sejak tanaman tumbuh sampai panen (Tengkano, 1986 cit LPTP, 2000). Diantara hama penting kacang hijau tersebut adalah: lalat bibit  Ophyomia phaseoli, ulat jengkal  Plusia chalsites, kepik hijau  Nezara viridula, kepik coklat  Riptortus linearis, penggerek polong (Maruca testulalis  dan Etiella  spp.) dan kutu thrips (Hilman,  et al., 2004). Menurut Nurdin (1994), di Sumatera Barat hama utama yang menyerang tanaman kacang hijau adalah: lalat bibit  Ophyomia phaseoli,  Aphid sp, belalang, ulat grayak Spodoptera litura, ulat penggulung daun Lamprosema indicata, ulat jengkal  Plusia chalsites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat  Riptortus linearis, dab penggerek polong Maruca testulalis.  Atman: Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah  ISSN 1412-583893. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Penggunaan insektisida merupakan alternatif terakhir bila cara lain tidak mangkus dalam mengendalikan hama. Insektisida anjuran, antara lain adalah: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/l air dan volume semprot 500-600 l/ha (Balitkabi, 2005).  Menurut Sunantara (2000), untuk pengendalian lalat bibit, ulat daun maupun penggerek polong dapat digunakan insektisida: Marshal, Fastac, Decis, Matador, dan Atabron. Sedangkan untuk mengendalikan kutu dan kepik yang menyerang daun maupun polong dapat digunakan insektisida: Decis, Basso, Kiltop, Ambush, dan Larvin. Waktu penyemprotan insektisida tergantung populasi hama di lapangan. Bila populasi telah mencapai ambang kendali, baru dilakukan penyemprotan.

i.        Pengendalian Penyakit
Penyakit utama tanaman kacang hijau adalah bercak daun  Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung  Erysiphe polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida, seperti: Benlate, Dithane M45, Baycor, Delsene MX200, atau Daconil pada awal serangan dengan takaran 2 g/l air. Fungisida laian yang dapat mengendalikan penyakit embun tepung dan bercak daun adalah hexakonazol yang diaplikasikan pada umur 4 dan 6 minggu untuk penyakit embun tepung atau 4, 5, dan 6 minggu untuk penyakit bercak daun (Balitkabi, 2005). Sementara itu penyakit embung tepung juga dapat dikendalikan dengan menggunakan varietas tahan, seperti: Sriti dan Kutilang. Menurut Anwari dan Iswanto (2004), varietas Kutilang mempunyai tingkat ketahanan lebih tinggi terhadap penyakit embun tepung. Penggunaan varietas tahan dapat menggurangi pemakaian fungisida sehingga dapat menekan biaya produksi dan secara tidak langsung juga melestarikan lingkungan. 



B.     KERANGKA BERFIKIR
Tumbuhan kacang hijau akan subur atau berkecambah dengan cepat apabila adanya pemberian sekam yang dicampur dengan pupuk secara teratur dan sesuai dengan komposisi tanaman serta tanah. Berdasarkan pemikiran diatas dapat kita susun kerangka berfikir sebagai berikut :
 








C.     HIPOTESA
Berdasarkan kerangka berfikir dapat disusun Hipotesa sebagai berikut :
1.      Adanya pengaruh pemberian sekam pada pertumbuhan benih kacang hijau di perkebunan Bp. Azis Eko, Surakarta,
2.      Tidak terdapat pengaruh pemberian sekam pada pertumbuhan benih kacang hijau di perkebunan Bp. Azis Eko, Surakarta.







BAB III
METODOLOGI PENELITAN

A.     TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan tempatnya di rumah Bp. Azis Eko di Surakarta pada tanggal 2 Februari 2011.

B.     POPULASI DAN SAMPEL
§  Populasi adalah kelompok yang menjadi sasaran penelitian yaitu subjek yang jumlahnya dapat atau tidak dapat diketahui. Contoh populasi dari penelitian ini adalah kacang hijau dan sekam,
§  Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Contoh sampel dari penelitian ini adalah kacang hijau jenis parkit dan sekam jenis sekam bakar.
C.     DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
§  Variabel Respon
Perbedaan kecepatan perkecambahan pada biji kacang hijau yang dukur setiap hari
§  Variabel Kontrol
Berupa jenis biji kacang hijau,suhu ruangan,intensitas cahaya yang sama

D.      TEKNIK PENGUMPULAN DATA
§  Teknik angket
Teknik pengumpulan data yang berupa suatu daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis oleh responden.
§  Teknik pengamatan
Teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung kejadian di lapangan.
§  Teknik wawancara
Teknik pengumpulan data dengan berkomunikasi secara langsung antara peneliti dan sampel.

E.       ANALISA DATA
Analisa data dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif  yaitu membandingkan dua sampel yang berbeda.

F.       RANCANGAN PENELITIAN
Rancangan penelitian yang dipakai menggunakan rancangan eksperimen dengan rancangan eksperimen dengan rancangan sebagai berikut :

Rounded Rectangle: KACANG HIJAU
 

 
Rounded Rectangle: PEMBERIAN PAKAN DAN AIR 2X SEHARI
Rounded Rectangle: PEMBERIAN PAKAN DAN AIR 2X SEHARI
Rounded Rectangle: PERTUMBUHAN
 















0 komentar:

Poskan Komentar